Categories
Blogging

Suku Cadang Alsintan Masih Impor

Mekanisasi pertanian, jelas penerima Penghargaan Perekayasa Terbaik Tingkat Nasional 2001 dari Menteri Pertanian itu, sangat berperan dalam pencapaian swasembada pangan. Mekanisasi meningkatkan efisiensi sumber daya pertanian dengan menurunkan biaya tenaga kerja lebih dari 50%, menghemat waktu dan air, mengurangi kehilangan hasil, dan meningkatkan mutu hasil. Berdasarkan survei BBP Mektan di sentra produksi padi Pulau Jawa dan Prov. Sulsel pada 2015, total penghematan penggunaan mekanisasi dibandingkan sistem manual sejak pengolahan lahan hingga pemanenan berkisar 78,4%.

Rinciannya, pengolahan lahan hemat 85%, persemaian hingga penanaman 60,5%, penyiangan 86,7%, dan pemanen an 81,3%. Astu mengungkapkan, ketersediaan alsintan untuk padi misalnya, masih kurang. “Untuk traktor roda dua jumlahnya 216.000 unit sedangkan kebutuhannya 389.160 unit, masih kekurangan 173.160 unit,” ulasnya (lihat Tabel Kebutuhan Alsintan un tuk Padi). Selain itu, beberapa jenis alsintan dibu tuh kan guna mendukung pertanian modern. Con toh nya, alat pengolah dan tanam benih, transplan ter (alat tanam), boom sprayer, aplikator pupuk, sis tem irigasi dan drainase terkendali, combine harvester, alat pengering, unit penggilingan, silo, hingga mesin pembangkit energi berbahan bakar biomas.

Bisnis Alsintan

Astu pun mengamati peluang usaha penyewaan alsin tan. Ada tiga jenis Usaha Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian (UPJA) yaitu pemula, berkembang, dan profesional. Pada 2013 tercatat pemain UPJA pemula sebesar 9.485 (79%), berkembang 2.136 (18%), dan profesional 423 (4%). “Profesional itu sudah punya alsintan sendiri, punya proyekan sendiri. Petani atau pengusaha UPJA yang berpikir bisnis akan melihat ini bisnis yang menguntungkan,” ucapnya. Di Kalteng, Astu itu mencontohkan, seorang petani awalnya membeli satu unit combine harvester seharga Rp400 juta. Dalam waktu kurang dari enam bulan, ia menambah pembelian sebanyak 6 unit.

Alasannya dengan sistem bagi hasil 1:6 atau setara Rp4,5 juta/ton, ia bisa mengantongi Rp8 juta/hari menggunakan combine harvester. “Satu combine bisa (menggarap) 2 ha/hari, saya dapat Rp9 juta. Sehari bisa dapat Rp8 juta untuk combine,” ujar peraih penghargaan Pelopor di Bidang Pembangunan Pertanian Berprestasi Tingkat Nasional 2016 itu menirukan petani. Sayangnya, masih sedikit UPJA yang berpikir bisnis Di samping itu, industri alsintan Indonesia masih menghadapi masalah. Yakni, ketersediaan bahan baku dan suku cadang yang masih impor, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) terampil masih kurang, rendahnya daya beli petani, dan sulitnya akses kredit alsintan.