Categories
Agribisnis

Stok Melimpah, Harga Melemah

Upaya pemerintah agar kita bisa berswasembada bawang merah tampaknya sukses. Pemerintah mengklaim stok bawang merah melimpah bahkan Indonesia mampu mengekspor komoditas bernama latin Allium cepa var. aggregatum itu ke enam negara, yakni, Timor Leste, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei, dan Fiji.

Kendati demikian, kesuksesan tersebut belum sepenuhnya ikut dinikmati petani bawang merah di dalam negeri. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan bangga menyampaikan, impor bawang merah sudah tidak ada. Namun di sisi lain ia menerima kabar harga bawang merah di Brebes, Jawa Tengah, tersungkur tinggal Rp4.000/kg.

“Turun 50% – 70% dari standar yang seharusnya,” ungkap Mentan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Gabungan Ketahanan Pangan dan Evaluasi Upsus 2017, Rabu (3/1).

Antara Swasembada dan Harga

Kementerian Pertanian mencatat, sampai Oktober 2017, produksi bawang merah mencapai 1,42 juta ton. Mentan memperkirakan total produksi 2017 mencapai 1,68 juta ton atau naik 15,3% dari tahun sebelumnya. Sementara kebutuhan nasional hanya 1,25 juta ton.

Artinya, swasembada tercapai dan Indonesia memiliki kemampuan ekspor. Senada dengan Mentan, pembenih bawang merah asal Brebes, Yuliana Rosmalawati berujar, produksi benihnya stabil dan diikuti hasil yang bagus pada 2017. Begitu pula penyerapan untuk benih, termasuk baik dari pihak pemerintah maupun sesama petani.

Pemerintah, terang Yuli, sapaan akrabnya, menyerap benih produksinya untuk pengembangan kawasan bawang merah di beberapa wilayah di Pulau Jawa dan luar Jawa. Bisnis benih Yuli bisa dibilang lancar. Tetapi di sisi lain harga jual bawang merah konsumsi di tingkat petani sangat rendah.

Pemilik CV Agropundi Lestari ini menuturkan, bawang merah hasil panen petani melimpah di tiap wilayah sentra. Belum lagi dari wilayah pengembangan kawasan bawang merah selama 2017. “Banyak yang tanam bersamaan. Jadi panen pun bersamaan. Hasil tidak semua terserap.

Sebelumnya harga di tingkat petani sempat mencapai Rp25 ribu/kg, sekarang ini hanya Rp8.000/kg,” ulas Yuli. Soekam Parwadi, Direktur Pengembangan Agribisnis Paskomnas (Pasar Komoditi Nasional) membenarkan, sudah setahun ini harga cukup rendah. Penyebabnya, di daerah Sumatera juga banyak panen bawang merah.

Jadi, Sumatera tidak banyak membeli bawang merah dari wilayah Jawa, malahan mengirimnya. Belum lagi wilayah Kalimantan dan Sulawesi yang juga bertanam bumbu utama ini.

Tetap Optimistis

Meskipun harga jual bawang merah konsumsi tengah melemah di tingkat petani, Yuli tetap optimistis usaha bawang merahnya berjalan lancar pada 2018. “Optimis produksi dan harga akan stabil. Intinya pemerintah membantu, hasil panen bisa diserap dengan baik,” ungkapnya.

Menyikapi harga jual yang rendah di kalangan petani, Mentan berjanji melakukan sinergi bersama pihak-pihak terkait. Bulog pun diharapkan dapat menyerap dengan harga beli sesuai kesepakatan, yaitu Rp15.000/kg. Sebagai petani, Yuli berharap harga jual yang lebih baik. “Petani tidak menuntut untung yang terlalu besar.

Asalkan harga sesuai, menutup biaya produksi, dan untung tak terlalu besar, petani akan menerima,” harap produsen benih bawang merah bersertifikat ini.