Categories
Blogging

Padi Terancam, Jangan Lengah!

Cuaca memang sangat mempengaruhi kehadiran hama dan penyakit tanaman padi. Sederet organisme pengganggu tumbuhan (OPT) ternama datang silih berganti di berbagai daerah. Sebut saja wereng yang masih saja jadi lima besar OPT hampir setiap tahun. Belum lagi tikus yang masih merajai puncak hama sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Datang pula “pencuri” padi lain, yaitu penyakit blas yang juga merajalela sepanjang 2016 hingga saat ini.

Awas Ledakan Populasi Wereng!

Begitulah sekilas gambaran serangan OPT yang dipaparkan Budi Widodo, Technical & Marketing Manager PT Agricon Indonesia setahun belakangan. “Serangan wereng diperkirakan makin parah karena kondisi sangat mendukung. Musim hujan tapi ada panas, populasi cepat berkembang. Apalagi sekarang memasuki generasi ketiga sehingga berpeluang outbreak yang dapat menyebabkan kehilangan hasil panen 75%,” prediksi Budi pertengahan Februari silam. Saat ini, sambung dia, serangan hama bernama ilmiah Nilaparvata lugens tersebut tersebar hampir merata di seluruh sentra produksi padi seperti pantai utara Jawa.

Menanggapi ancaman tersebut, alumnus IPB Jurusan Budidaya Pertanian ini menganjurkan petani untuk mengambil tindakan perlindungan. Langkah pertama, lanjut Budi, bisa dengan kultur teknis. Petani sebaiknya memperhatikan takaran pemupukan secara berimbang, memilih varietas yang tahan wereng, tindakan terakhir pengendalian menggunakan kimia. Untuk mengatasi serangan wereng, Agricon memiliki insektisida Tenchu 20 SG yang bekerja sangat cepat tanpa membunuh musuh alami. Insektisida berbahan aktif dinetofuran ini berspektrum luas, bekerja sebagai racun kontak dan racun lambung. Bentuknya butiran (granul) tetapi cepat larut dalam air. Peng gunaannya dengan cara mela rutkan 25 g per tangki atau dosis 400 – 500 g/ha. Aplikasi dimulai pada 15 hari setelah tanam (HST). “Dalam waktu 3 – 5 menit setelah aplikasi wereng langsung berjatuhan,” jelas Budi.

Pencuri Saat Cuaca Lembap

Kilas balik setahun ke belakang, OPT penyerbu yang betah dalam cuaca lembap adalah cendawan Pycularia oryzae penyebab penyakit blas. Cendawan ini menyerang daun dan leher malai padi. Pada leher malai, petani mengenalnya sebagai penyakit patah leher atau teklik. Menurut Budi, potensi kerugian akibat serangan patah leher mencapai 50%. Blas dapat dikendalikan dengan fungisida Blast 200 SC berbahan aktif trisiklazol. Menurut Budi, sebagai tindakan pencegahan perlu perlakuan benih. Benih padi direndam dalam 2,5 ml Blast 200 SC per kg benih. Selan jutnya diaplikasi pada tanaman sebanyak tiga kali, pada umur 20, 30, dan 40 HST. Untuk mencegah patah leher bisa dikendalikan dengan fungisida Inari 72,5 WP. Fungisida berbahan aktif metil tiofanat dan trisiklazol tersebut diaplika sikan dengan penyemprotan volume ting gi 375 – 562,5 g/ha pada 40 dan 60 HST.

Selain mengendalikan serangan tek lik, Inari juga dapat mempertahankan hijau daun (greening effect) sehingga produksi dan kualitas gabah meningkat. “Kelebihan pakai Inari, rendemen tinggi, gabah juga jadi lebih jernih,” ujar Budi. Berdasarkan uji, kenaikan produktivitasnya mencapai 20% dan rendemennya 15%. Di samping itu, pada sawah yang cenderung tergenang terjadi peningkatan serangan cendawan Rhizoctonia solani penyebab penyakit hawar pelepah padi. Penyakit ini bisa diantisipasi dengan Throne 250 EC, fungisida sistemik berbahan aktif propikonazol. Dosisnya 1 – 2 ml/l dengan penyemprotan bervolume tinggi. Tikus memang selalu ada sepanjang tahun, tapi hama pengerat ini lebih senang beraksi pada fase primordia. Budi memaparkan, tikus dapat dikendalikan dengan rodentisida Ratgone 0,005 BB yang mengandung bahan aktif brodifakum berupa umpan siap pakai yang berbentuk blok. Selain tikus, keong juga agak membahayakan karena saat ini populasinya membludak. Keong dapat dikendalikan dengan Snaildown 250 EC yang berbahan aktif niklosamida. Molus kisida ini bekerja sebagai racun kontak dan pernafasan. Penyemprotannya dengan konsentrasi 2-4 ml per liter air.

Sekolah Lapang Agricon

Selain menyediakan pestisida untuk pengendalian OPT, Agricon juga mengedukasi petani tentang budidaya tanaman padi melalui Sekolah Lapang Agri con (SLA). “Proses SLA berlangsung di lapangan dengan melibatkan petani. Agricon melalui fasilitator mentransfer pengetahuan tentang budidaya padi, OPT, dan pengendaliannya selama satu musim tanam,” ungkap Deni Cahya Adamsyah, Technical Support Manager PT Agricon Indonesia. Kegiatan ini juga melibatkan petugas lapang pertanian dan instansi terkait setempat. Melalui 26 orang fasilitator, Agricon membuat 104 unit SLA yang tersebar di seluruh sentra padi Indonesia. Tiap unit, tambah Deni, melibatkan 25 orang petani dengan demo plot seluas setengah hektar. Para petani akan dibagi dalam lima kelompok kecil untuk melakukan pengamatan, presentasi dan diskusi, lalu membuat kesimpulan untuk tindakan pengendalian. Kegiatan ini dilakukan hingga panen dan membandingkan hasilnya dengan kontrol. “Kegiatan SLA ini diharapkan dapat diaplikasikan oleh petani pada masingmasing lahan mereka,” jelas pria lulusan Univer sitas Garut ini.