Categories
Blogging

Nikmatnya Jadi Petani Muda

Sejak kecil tak pernah terlintas dalam benak Asep Ana Mardiana untuk menjadi petani. Padahal lelaki asal Desa Rancasari, Keca mat – an Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, ini berasal dari keluarga petani.

Namun kini pria berusia 34 tahun ini nyaman dan bersemangat menjalani profesinya sebagai petani. Dengan latar belakang pendidikan broadcast (penyiaran), ia sempat bekerja dalam bidang engineering. Lalu pada 2007 ia kembali ke kampung halamannya untuk meneruskan usaha sa wah milik keluarga. “Awalnya, saya ikut bantu me ngelola sawah almarhum ayah saya yang luasnya sekitar satu hektar,” kata sulung tiga bersau dara ini kepada AGRINA.

Sambil mengelola sawah, ayah satu anak ini juga mencoba peruntungan membuka toko sarana pro – duksi pertanian. Secara bertahap usaha tani Asep pun terus berkembang. Dari satu hektar la han, kini ia sudah mengelola 5 hektar lahan sa wah. Sebagian milik sendiri, sebagian lainnya sewaan.

Menurut Asep, produktivitas padinya rata-rata mencapai 9 ton/ha, malah kadang bisa di atas 10 ton/ha. Ia menanam varietas IR-42 yang saat ini harga jual gabahnya sekitar Rp5.000/kg. Biaya produksinya sekitar Rp10 juta/ha.

Kalau dihitung, pendapatan kotor Asep satu musim tanam (sekitar 3 bulan) dengan lahan 5 hektar bisa mencapai Rp225 juta. Total biaya produksi sebesar Rp50 juta. Artinya, pendapatan bersihnya tak kurang dari Rp175 juta, itu belum termasuk pemasukan toko pertaniannya

Mudah Bertani

Pencapaian Asep tersebut tidak didapat dengan mudah. Ia mengaku mula-mula produktivitas padi nya tidak setinggi sekarang. Namun dengan mene rapkan pengolahan lahan dan pemupukan yang tepat waktu dan tepat dosis, secara bertahap produksi padinya meningkat. “Dari musim ke musim saya terus mempelajari dan menerapkan bagai ma na cara meningkatkan produktivitas padi,” ungkapnya.

Keberhasilan tersebut diikuti petani padi lain di daerahnya. Menurut Asep, bertani padi zaman sekarang lebih mudah karena tersedia alat-alat pertanian seperti traktor dan mesin pemanen yang ikut memudahkan proses pengolahan lahan dan pemanenan serta menekan biaya produksi.

Karena itu ia berpesan kepada petani di mana saja yang ingin meningkatkan produksi, sebaiknya mengenali dulu unsur hara tanah sawah masing-masing. Caranya dengan mengukur kualitas tanah menggunakan alat yang sudah banyak tersedia di toko pertanian atau bisa juga pinjam dari sesama petani.

Setelah tahu kondisi awal kualitas unsur hara tanah, lanjut dia, baru bisa ditentukan jenis, jumlah, dan waktu pemupukan yang cocok untuk tanah tersebut. “Dengan begini, usaha bertani padi bisa lebih efisien dan saya sendiri sudah membuktikan hasilnya meningkat dan alhamdullilah belum pernah gagal panen,” ujarnya semangat.

Asep menganjurkan sesama petani supaya meng ikuti perkembangan teknologi, jangan sungkan bertanya dan berani berubah untuk maju. Asep ju ga berharap pemerintah terus meningkat kan bim bingan kepada para petani terkait perkembangan teknologi melalui para penyuluh pertanian. Tidak seperti sekarang, kebanyakan petani justru mendapat informasi terbaru dari pendamping swas ta yang menawarkan berbagai produk pertanian

. Tidak saja di bidang bisnis, dalam usaha tani pun ternyata feeling cukup menentukan keberhasilan. Itulah pengalaman Tony, petani di Desa Serdang, Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, yang menuai untung dari bercocok tanam jagung.

Pada awalnya, ayah satu putri ini bertanam singkong. Bertahun-tahun ia menanam bahan baku tapioka tersebut dan meski tidak banyak untungnya, tapi cukup untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama istrinya, Rosnawati.

Namun setelah belasan tahun tidak banyak kemajuan, pria berusia 40 tahun ini merasa jika terus bertanam singkong hidupnya akan begitubegitu saja. “Feeling saya mengatakan, harus berganti komoditas jika ingin maju. Singkong tidak bisa menjadi tumpuan hidup,” kenang Tony ketika ditemui AGRINA sedang mengawasi pekerja menanam jagung di lahan miliknya di tegalan Desa Serdang, baru-baru ini.

hama dan penyakit. Kedua, akses pasar yang tidak dimilikinya sehingga terpaksa menerima harga tengkulak. “Selama ini meskipun kita sudah panen jagung dengan kadar air rendah, selisih harganya dengan jagung berkadar air tinggi tidak signifikan,” ia beralasan yang diamini anggotanya saat itu.

Setelah menguasai teknologi budidaya, pada musim rendeng lalu, Tony mampu memanen 10 ton/ha dengan kadar air di bawah 30%. Produksi itu melebihi pencapaian anggota kelompoknya seki tar 8 – 9 ton/ha.

Untuk mendongkrak produksi, Tony tidak saja menjalankan teknis budidaya sesuai anjuran penyuluh, tetapi ia memberikan nutrisi lebih agar bonggol jagungnya lebih besar dan panjang sehingga biji jagungnya lebih banyak. Selain memberikan pupuk Urea, TSP, dan Phonska, pada umur 15 hari ia juga menambahkan pupuk mikro plant nature. Komposisi pupuk yang ditebar pada pemupukan pertama untuk luas lahan satu hektar