Categories
Blogging

Halau OPT yang Bikin Petani Buntung

Musim kemarau mulai datang, tapi hujan masih menghampiri. Selama musim pancaroba ini, masih banyak dijumpai kasus penyakit patek atau antraknosa. Namun kerugian petani tidak separah musim hujan. Bunga banyak yang rontok dan tanaman pun juga banyak terkena penyakit. Sementara virus gemini terlihat mulai menyerang ketika kemarau tiba. Karena itu, perlindungan terhadap tanaman cabai mutlak dilakukan.

Sederhana Tapi Mengena

Menurut Dadi Sudiana, Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), secara sederhana melindungi tanaman tidak harus dengan green house dan screen house, tapi cukup dengan penutup plastik UV dan di bagian sampingnya dipasangi screen net. “Tujuannya apa? Kan penyakit itu ada yang dari atas, dari tanah, dan segala arah. Nah, mencegah yang dari atas itu ya dengan penutup,” jelas pria yang sekarang fokus dalam advokasi dan pemasaran cabai itu.

Penyakit antraknosa atau patek yang disebabkan cendawan Colletotricum sp. itu sangat cepat menyebar. Di udara, penyebarannya melalui spora yang beterbangan dan bisa menyerang dari arah atas dan bawah tanaman.

Selain mencegah patek, penggunaan pelindung sederhana tersebut juga mencegah datangnya hama pembawa virus. Dadi melanjutkan, penyakit lain yang membuat petani sebal itu adalah virus kuning (gemini).“Virus ini dibawa oleh kutu yang suka beterbangan,” jelas Dadi. Dengan penggunaan net, hama kutu akan terhalang secara langsung memasuki area pertanaman cabai.

Dadi juga sedang mencoba cara sederhana untuk menghalangi kutu kebul. Ia mencoba menanam j gung di pinggir guludan tanaman cabai. Di percobaannya, Ketum AACI itu menanam empat baris jagung untuk mengalihkan perhatian hama terhadap tanaman cabai. Hasilnya lumayan, kutu kebul ada yang menempel ke jagung sehingga mengurangi serangan ke tanaman cabai.

Cegah Sebelum Mewabah

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Begitulah pepatah yang sering didengar agar tidak menyesal dalam melangkah. Jika belum siap dengan penutup tanaman atau pelindung tanaman, petani masih punya alternatif dengan aplikasi pestisida yang tepat.

Secara umum, pencegahan harus diawali dengan praktik budidaya yang baik. Pengaturan jarak tanam, pemupukan yang berimbang, dan pengamatan yang tepat terhadap tanaman. Apabila terlihat ada gejala pada tanaman, sebaiknya segera ambil tindakan.

Jika tidak mau mengambil risiko terlalu jauh, pencegahan bisa diawali dengan perlakuan sejak pembibitan. Petani disarankan untuk menyemprot bibit dua hari sebelum pindah tanam. Menurut Marketing Manager PT DuPont Agricultural Products Indonesia, Arya Yudas, “Dengan insektisida berbahan aktif siantraniliprol 200 g/l, tanaman akan terlindung dari hama seperti thrips, kutu kebul, dan aphid.” Ketiganya merupakan vektor virus.

Untuk aplikasinya, petani dapat menggunakan 25 ml insektisida racun lambung tersebut ke dalam 2,5 liter air untuk 1.000 bibit. Sedangkan untuk 4.000 bibit, petani dapat mencampurkan 100 ml ke dalam 10 liter air. “Perlakuan sebelum pindah tanam bagus supaya tanaman tidak terkena stres abi- otik setelah dipindah. Tidak perlu lagi menyulam tanaman,” lanjut lulusan Universitas Padjadjaran itu.

Dua minggu setelah pindah tanam, petani dapat mengaplikasikan insektisida berbahan aktif klotianidin 600 g/l. “Bahan aktif ini aman untuk serangga penyerbuk,” papar Eko Purwanto, Brand Manager Vegetables PT Bina Guna Kimia. Untuk imunisasi tanaman cabai, petani disarankan mengaplikasikan insektisida racun kontak dan lambung itu sebanyak 200 ml/ha. Jika berdasarkan pengamatan sudah terjadi serangan, aplikasikan sepagi mungkin sebelum kutu-kutu aktif bergerak.

Sedangkan untuk mengatasi patek yang masih menyerang, petani dapat memanfaatkan fungisida berbahan aktif prokloraz MnCl250% dengan dosis 25 g/tangki. Cara aplikasinya dengan mengocor 2 g/l pada saat tanam. Tujuh hari setelahnya, semprot dengan konsentrasi 1,25 g/l. Saat mulai berbuah, semprot lagi dengan konsentrasi 1,25 g/l dengan jarak 3-5 hari dengan 5-6 kali penyemprotan (tergantung kondisi serangan). Penggunaan fungisida ini juga berefek memperpanjang masa simpan buah.

OPT Lain

Disamping organisme pengganggu tumbuhan (OPT) tersebut, masih ada beberapa jenis pengganggu lainnya yang perlu diantisipasi. Contohnya, bercak bakteri, layu bakteri, hawar phytopthora dan ulat-ulatan.

“Ulat yang makan daun relatif mudah dikendalikan. Tinggal semprot dengan insektisida sintetik piretroid, nanti juga hilang. Yang sulit itu kalau terserang ulat bor atau ulat buah,” papar Hadi Suparno, Development & Registration Manager PT Royal Agro Indonesia. Jika sudah masuk ke dalam buah, lanjut Hadi, serangannya hampir tidak bisa dikendalikan.

Kemudian ada juga penyakit hawar phytopthora yang disebabkan cendawan Phytophthora capsici. Jika terserang tanaman, gejala yang tampak pada daun, yaitu busuk atau lodoh, pada batang terjadi penyempitan batang dan berwarna hitam, serta pada buah terlihat warna hitam dan sedikit lembek. Penyakit ini berkembang pada suhu rendah dengan kelembapan yang tinggi. Penyebarannya melalui percikan air dan bisa juga terbawa angin.

Cara pengendaliannya dengan membuang dan memusnahkan bagian tanaman yang terserang, memangkas daun-daun tua. “Bisa juga aplikasi fungisida berbahan aktif kaptan 80% dengan dosis 2 g/l. Bahan aktif ini meng- ikat sulfur-hidrogen dan mengganggu respirasi cendawan,” tutup Hadi.