Categories
Blogging

Bersiaplah Ayam Impor Menyerbu

Saat ini ancaman terhadap industri unggas kita bukan hanya terkait teknis budidaya tapi juga makin dekatnya produk impor ke pasar kita. Pasalnya, dalam sengketa dagang dengan Brasil, kita kalah setelah berkelit sejak 2009.

Konfirmasi kekalahan Indonesia melawan Brasil tersebut disampaikan Sondang melalui surat elektroniknya kepada AGRINA. “Untuk unggas sudah ada final report, tapi karena belum di-publish (me – nunggu diterjemahkan ke bahasa WTO), masih res – tricted sampai Oktober,” tulisnya 6 Juni lalu.

Duduk Soalnya

Sejak 2009, Brasil sudah melirik Indonesia sebagai tujuan ekspor untuk produk unggas. Eksportir unggas nomor satu di dunia ini melihat pasar Indonesia sangat potensial karena jumlah penduduknya 250 jutaan jiwa dan konsumsi per kapita Indonesia ma – sih rendah. Dalam laman Kementerian Luar Negeri Brasil disebutkan, mereka membidik minimal US$70 juta setahun atau hampir Rp1 triliun dari pa – sar Indonesia.

Pemerintah negara asal tarian Samba itu bersama para pelaku usaha mereka berupaya melakukan negosiasi dengan pemerintah Indonesia. Namun sampai hari ini, pasar Indonesia tetap steril dari produk unggas Brasil. Padahal Brasil sudah berhasil mengekspor produknya ke 150-an negara, termasuk Timur Tengah yang bermayoritas muslim seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.

Gagal melalui pendekatan bilateral, Brasil lalu me – minta pembentukan panel ke Dispute Settlement Body (DSB) WTO dengan nomor kasus DS484 pada 16 Oktober 2014. DSB menyidangkan perkara ini dua kali, yakni 11-15 Juli 2016 dan 11-12 Oktober 2016.

Menurut Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan sekaligus Plt. Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner dalam acara Indonesia Poultry Club Februari lalu, Brasil menilai perizinan impor Indonesia sebagai pelarangan dan pembatasan impor daging ayam dan produk ayam dari negara mereka.

Regulasi teknis yang digugat Brasil:

Permentan No. 139/2014 juncto Permentan No. 2/2015 tentang Pemasukan Karkas, Daging, dan/ atau Olahannya ke dalam wilayah negara Republik Indonesia

Permendag No. 46/2013 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Hewan dan Produk Hewan junctis Permendag No. 57/2013 dan Permendag No. 17/2014; Permendag No. 54/2009; Permendag No. 27/2012 Junctis Permendag No. 59/2012 dan Permendag No. 84/2012; Permendag No. 83/2012 dan Kepmenkeu No. 454/2002

Sementara itu, Agung Suganda, Kasubdit Peng – awasan Sanitari dan Keamanan Produk Hewan Kes – mavet, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan yang mengikuti persidangan WTO di Jenewa, menyatakan, kalah menang dalam perkara di WTO itu per – kara yang biasa. “Tidak perlu menjadi suatu kekha – watiran yang berlebihan. Tentu sebagai anggota WTO, kalau sudah kalah, kita harus mengikuti ke ten – tuan yang ada di sana, tapi kita juga tidak melupakan kepentingan nasional kita,” tandasnya ketika ditemui AGRINA, 21 Juni 2017.

Masih menurut Agung, dari tujuh hal keberatan Brasil, yang terkait masalah halal dimenangkan oleh Indonesia. Jadi, “Kita tetap boleh mempersyaratkan adanya label halal pada kemasan produk yang akan diimpor,” ujarnya menenangkan. Hingga sekarang pun, tidak ada negara dan unit usaha yang sudah di setujui untuk dapat mengekspor daging ayam ke Indonesia..